Peringatan hari
anti tembakau sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei mendatang hendaknya dijadikan
momentum untuk mencetak generasi muda yang sehat secara jasmani. Hal ini
dikarenakan hanya mereka-mereka yang sehat secara fisiklah yang mampu
meneruskan perjuangan dalam mengisi pembangunan guna kemakmuran rakyat. Akan tetapi jika kita melihat realita di lapangan, nampaknya
permasalahan masih tingginya angka siswa sekolah yang kecanduan nikotin tidak
akan selesai dalam waktu dekat. Sebaliknya, data statistik menunjukkan jumlah
remaja yang memilih rokok sebagai “teman setia” nya cenderung mengalami
peningkatan.
Data tersebut tercermin
dalam riset yang dilakukan oleh Komunitas Anti Rokok Indonesia (KARI) tahun lalu. Dalam laporannya, KARI
menyampaikan bahwa anak sekolah memiliki kecenderungan untuk merokok lebih
tinggi daripada orang dewasa. Parahnya lagi, fenomena ini semakin meningkat
setiap tahunnya. Selain itu, berdasarkan penelitian tersebut diperoleh fakta
bahwa sedikitnya 45 persen pelajar di Indonesia adalah perokok. Hal ini tentu
saja mengundang keprihatinan berbagai pihak, khususnya pihak sekolah dan orang
tua siswa. Remaja yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa, harus layu
sebelum berkembang oleh endapan nikotin yang menggerogoti tubuhnya.
Tingginya
angka siswa sekolah yang menjadi perokok aktif ini sejatinya tak terlepas dari
pengaruh produsen rokok yang gencar melakukan promosi. Tayangan iklan rokok
yang dikemas dengan tampilan menarik dan kreatif tentu saja dapat mempengaruhi
para remaja untuk mencobanya. Setelah itu, sudah bisa dipastikan mereka pun
akan ketagihan. Selain itu rajinnya produsen rokok dalam memberikan kontribusi
bagi kegiatan-kegiatan disekolah maupun pemberian beasiswa kepada pelajar
maupun mahasiswa membuat kalangan pelajar
sulit untuk lepas dari jeratan produsen rokok.
Banyaknya
remaja yang kecanduan merokok tentu saja menjadi masalah serius. Alih-alih
menjadi generasi penerus bangsa untuk membangun negara, yang ada malah menjadi
beban negara dengan menguras APBN untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan
yang mereka idap akibat kecanduan merokok. Semua sepakat bahwa rokok tidak baik
untuk kesehatan, namun tidak semua sepakat untuk menanamkan budaya hidup sehat,
khususnya di sekolah. Masih adanya guru yang asyik ngelepus di lingkungan sekolah, bahkan didalam kelas adalah contoh
fenomena diatas.
Untuk
mengurangi jumlah pelajar yang merokok diperlukan berbagai upaya dan juga
kerjasama dari berbagai pihak. Dalam hal ini, sekolah dapat menjadi wahana
untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini dengan mengkampanyekan bahaya
merokok dimasa depan. Selain itu, keteladanan dari para guru diharapkan akan
memberikan dampak positif bagi para siswanya. Tak kalah penting adalah peran
orang tua dirumah dalam mengawal nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan di
sekolah. Dengan adanya sinergitas seperti ini diharapkan tercipta generasi
penerus yang sehat jiwa dan raganya.( Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 )
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar