Kekerasan terhadap anak masih marak. Itulah judul berita di salah satu surat kabar nasional.
Adapun banyaknya tayangan media yang kurang mendidik disinyalir sebagai
salah satu penyebab masih maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap anak,
baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Hal ini disebabkan fungsi edukasi yang merupakan salah satu tugas yang seharusnya diemban oleh media seakan tenggelam oleh kuatnya arus kepentingan untuk mempertahankan eksistensi media itu sendiri.
Akibatnya tak jarang media harus “mengalah” pada keinginan sponsor untuk tetap menyuguhkan acara-acara yang memiliki rating tinggi sekalipun tayangan tersebut tidak bersifat mendidik, bahkan cenderung menjerumuskan.
Lemahnya fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran
Indonesia dan juga oleh masyarakat itu sendiri diduga menjadi penyebab
utama beredarnya tayangan-tayangan yang tidak berkualitas.
Banyaknya
tanyangan – tayangan yang tidak bermanfaat semacam ini tentu saja
dikhawatirkan dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat
kearah hal-hal yang bersifat negatif. Nilai-nilai kebaikan yang
ditanamkan oleh guru disekolah seakan hanyut oleh derasnya arus budaya
barat yang hedonis yang ditampilkan melalui acara-acara hiburan yang
tidak mendidik.
Menjamurnya
acara-acara audisi untuk pencarian bakat seperti Indonesian Idol maupun
Indonesia Mencari Bakat tentu saja hanya akan menjadikan kaum pelajar
kita sebagai generasi pemimpi. Acara-acara semacam ini hanya memberikan
pelajaran pada generasi muda kita bahwa kesuksesan itu dapat diperoleh
secara instant, tanpa harus kerja keras. Selain itu, banyaknya
kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang
dekat tentu saja tidak terlepas dari peran stasiun televisi yang sering
menyuguhkan tayangan – tayangan kekerasan maupun sinetron yang
seharusnya hanya boleh ditonton oleh orang dewasa.
Menyuguhkan
tayangan-tayangan yang dibutuhkan oleh masyarakat tentunya akan jauh
lebih bermanfaat daripada sekedar memanjakan mereka dengan tayangan-tayangan
yang mereka inginkan. Hal ini didasarkan pada fakta banyaknya
acara-acara yang bagus dan mendidik masyarakat harus bersaing ketat
dengan acara-acara yang menarik namun tidak mendidik. Oleh karena itu,
sudah saatnya stasiun televisi lebih banyak menampilkan tayangan-tayangan yang mengandung nilai-nilai edukasi daripada acara-acara hiburan.
Adapun
tayangan – tayangan edukatif tersebut bisa berbentuk tayangan khusus
yang bertajuk edukasi, siaran berita maupun siraman rohani. Selain itu,
nilai-nilai edukatif semacam ini juga dapat dikemas melalui
tayangan-tayangan yang bersifat hiburan seperti sinetron, komedi dan
acara- acara lainnya yang memang digemari oleh masyarakat. Dengan begitu
diharapkan konten dari tayangan-tayangan televisi dapat dijadikan
teladan dan tuntunan bagi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Selama
tayangan-tayangan tersebut belum dapat dijadikan tuntunan, mematikan
televisi anda atau menjualnya merupakan pilihan yang tepat.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar