Saat ini, revolusi dalam dunia pendidikan tengah terjadi. Masyarakat pun
tengah bersiap menyambut kurikulum baru yang akan diberlakukan bulan Juli ini. Adapun “sambutan” yang
disampaikan oleh masyarakat pun bermacam-macam, mulai dari yang secara tegas
menolak, menerima maupun yang
datar-datar saja. Terlepas dari itu semua, harus kita yakini bahwa dalam
menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat ini, revolusi dalam bidang
pendidikan adalah suatu keniscayaan. Pertanyaannya, apakah perubahan tersebut
harus selalu identik dengan perubahan kurikulum ?
Alasan
utama pemerintah akan memberlakukan kurikulum baru adalah bahwa kurikulum yang
berlaku saat ini tidak akan mampu menjawab tantangan yang akan dihadapi oleh
generasi sekarang dimasa yang akan datang. Dengan kata lain, kurikulum tahun
2006 yang saat ini masih digunakan sudah tidak relevan lagi. Pertanyaan muncul
ketika pemerintah, dalam hal ini kemdiknas tidak dapat menjabarkan
kekurangan-kekurangan yang terdapat pada kurikulum yang berlaku saat ini dengan
parameter yang jelas. Padahal idealnya hasil evaluasi yang objektif harus dijadikan
dasar dalam melakukan suatu perubahan. Mengkambing hitamkan kurikulum yang saat
ini berlaku tanpa melakukan evaluasi terhadap komponen-komponen lain yang
berkaitan merupakan suatu tindakan yang gegabah.
Pada
dasarnya ada dua komponen yang sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan sebuah
kurikulum. Pertama, apakah kualitas tenaga pendidik yang ada sudah cukup
memadai untuk menjalankan kurikulum yang dibuat. Jika belum, sejauh mana upaya
pemerintah dalam memfasilitasi para tenaga pendidik tersebut untuk meningkatkan
kemampuannya. Kedua, apakah sarana belajar disemua sekolah sudah cukup memadai
untuk memenuhi kebutuhan kurikulum yang ada.
Kedua
faktor inilah yang sebaiknya dievaluasi oleh pemerintah sebelum kurikulum baru
ini benar-benar diterapkan. Memberlakukan kurikulum baru tanpa mempersiapkan tenaga
pendidik yang terlatih dan sarana belajar yang memadai sama saja dengan
memasukkan seekor ikan ke dalam aquarium yang airnya diisi belakangan. Oleh
karena itu evaluasi yang objektif terhadap kedua komponen ini merupakan hal
yang sangat penting dalam melakukan perbaikan dalam dunia pendidikan.
Dengan menyampaikan hasil evaluasi
secara objektif diharapkan dapat mengurangi resistensi yang selama ini terjadi
dalam masyarakat. Selain itu dengan adanya evaluasi ini pemerintah dapat
melakukan perubahan ataupun perbaikan dengan tepat sesuai dengan kebutuhan
dilapanagan. Pada akhirnya masyarakat, khususnya praktisi pendidikan akan
memahami bahwa perubahan ini adalah suatu kebutuhan dan bukan paksaan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar