Bagi sebagian orang, pekerjaan sebagai tenaga pendidik masih dianggap
sebagai pekerjaan biasa sebagaimana profesi-profesi lainnya dalam kehidupan
masyarakat. Akan tetapi bagi seorang guru yang memiliki pandangan jauh kedepan,
profesi guru merupakan profesi yang sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan
sebagai seorang guru sejati dia menganggap bukan hanya atasan atau pun orang
tua siswa yang akan meminta pertanggungjawaban atas pekerjaannya, melainkan
juga Allah SWT. Baginya, anak didik adalah amanah yang harus dijaga dengan
baik. Hitam atau putihnya siswa kelak tak lepas dari sentuhannya selama proses
pembinaan.
Semua orang tentu saja bisa mengajar, namun tidak semua orang mampu
menjadi seorang pendidik yang baik. Hal ini dikarenakan seorang pendidik
haruslah memiliki beberapa sifat khusus yang melekat pada dirinya. Ketekunan,
keikhlasan, senantiasa belajar serta kesabaran dalam menghadapi anak didik
adalah syarat mutlak bagi seorang pendidik. Baginya setiap tetesan keringat dan
air mata akan menjadi saksi yang akan meringankan bebannya dihari perhitungan
kelak. Setiap kekurangan yang dimiliki oleh anak, ia anggap sebagai ladang
pahala untuk meraih ridha Ilahi.
Bagi seorang pendidik sejati, kekurangan harta bukanlah alasan untuk
bermalas-malasan dalam menjalankan aktifitasnya. Baginya kekurangan materi
adalah ujian yang akan mengantarkannya menuju derajat yang lebih tinggi jika
dijalaninya dengan ikhlas. Dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan
kemudahan kepada siapa saja yang mempermudah urusan orang lain, seorang
pendidik sejati akan terus berjuang mendidik anak didiknya ditengah
keterbatasan yang dialaminya.
Sayangnya diantara kita masih banyak yang menjalankan tugas pendidik ini
sebagai pekerjaan untuk memenuhi nafkah an
sich. Bahkan tidak jarang kita menuntut lembaga untuk menggaji
kita secara profesional tanpa terlebih dahulu bercermin apakah kita sudah
bekerja dengan profesional. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kita membutuhkan materi untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akan tetapi jika materi semata yag
menjadi tujuan, berapa pun gaji yang diterima niscaya itu tidak akan pernah
cukup untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan kita, karena pada dasarnya
manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki.
Oleh karena itu, seyogyanya kita syukuri berapapun gaji yang kita terima
dari lembaga tempat kita bekerja.Mudah-mudahan dengan mensyukuri rejeki yang
dalam pandangan manusia nilainya kecil itu, Allah memberikan barokah dan
menambahkan nikmat-Nya. Akhirnya penulis mengajak kepada kita semua khususnya
kepada penulis pribadi untuk memandang pekerjaan kita menjadi pendidik sebagai
salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dengan begitu kita berharap dengan mengerjakan
profesi kita sebaik-baiknya, tidak hanya materi yang kita peroleh, namun juga
pahala yang akan memperberat timbangan amal baik kita di akhirat kelak.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar