Bagi sebagian orang, memancing mungkin merupakan hobi yang
tidak bisa dilepaskan dari hidupnya. Begitupun dengan sosok seorang guru, tidak
sedikit dari mereka yang memiliki hobi memancing. Bahkan di beberapa sekolah
terdapat klub-klub memancing yang anggotanya terdiri dari guru-guru, pegawai TU
sampai penjaga sekolah. Mereka pun rutin mengadakan kegiatan mancing bareng ke
berbagai daerah.
Sebelum berangkat ke tempat
pemancingan, biasanya mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Mulai
dari pancingan sampai umpan terbaik mereka persiapkan dengan harapan ikan-ikan
yang akan mereka dapatkan adalah ikan-ikan yang besar ukurannya. Meskipun begitu mereka tetap bersyukur
kalaupun nanti hanya ikan-ikan kecil yang mereka dapatkan. Yang penting mereka
sudah berusaha menyediakan umpan terbaik bagi ikan-ikan tersebut.
Guru yang
baik bukanlah guru yang hanya menjadikan mancing sebagai hobi. Lebih dari itu
guru yang baik adalah guru yang mampu meangaplikasikan filosfi memancing dalam
menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Guru yang baik paham betul untuk
mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal dibutuhkan kerja keras yang
maksimal. Guru yang baik sangat memahami bahwa “insentif” yang diberikan oleh
lembaga berbanding lurus dengan kinerja yang mereka berikan untuk lembaga. Guru
yang baik akan tetap bersyukur meskipun gaji yang diterimanya mungkin tidak
terlalu besar. Baginya usaha untuk mempersembahkan proses pembelajaran terbaik
dikelas adalah hal terpenting.
Namun faktanya
tidak sedikit dari kita yang menuntut sekolah maupun yayasan dimana kita
bekerja untuk memberikan gaji secara professional tanpa terlebih dahulu
bercermin apakah kita sudah bekerja secara profesional. Tidak sedikit dari kita
yang datang ke sekolah sering kesiangan, sering meninggalkan sekolah ketika jam
KBM masih berlangsung, dan belum menjadikan anak didik sebagai prioritas namun
mengaharapkan gaji yang memadai.
Sejatinya
maju atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja
dari para pendidiknya. Demikian halnya dengan insentif yang kita terima dari
lembaga tempat kita mengajar sangat ditentukan oleh etos kerja selama kita
berada dilembaga tersebut. Pepatah karuhun
kita yang mengatakan rejeki mah bakal
nuturkeun nampaknya belum mendarah daging dalam diri kita sebagai pendidik.
Kebanyakan dari kita masih lebih berfokus pada gaji yang diberikan oleh lembaga
maupun tunjangan-tunjangan lainnya seperti tunjangan sertifikasi maupun
tunjangan yang lainnya daripada peningkatan kompetensi maupun kinerja diri
kita. Hal ini tentu saja mengakibatkan proses pembelajaran menjadi belum
optimal.
Oleh karena itu penulis mengajak kepada kita
semua khususnya kepada penulis sendiri untuk lebih meningkatkan kualitas kerja
kita tanpa harus memikirkan berapa besar insentif yang akan kita terima dari
lembaga. Marilah kita jadikan usaha untuk mempersembahkan proses pembelajaran
terbaik dikelas sebagai fokus utama dalam aktifitas keseharian kita. Dengan
begitu kita berharap akan muncul tunas-tunas bangsa yang siap untuk mengangkat
derajat bangsa kita melalui kompetensi yang mereka miliki.
Home
Upgrade saja hobby mancing nya jadi wirausaha bidang perikanan di as syifa pak... siapa tahu bisa jadi bidang usaha yg menambah honor ngajar dll... saya lihat sumber air berlimpah tuh di subang ya..
BalasHapusItu dia kang, dari kecil kepengen banget punya kolam ikan, cuma saat ini belum ada modal, maklum belum sertifikasi. Do'akan saja ya ...
Hapus