Ketika kita memutuskan untuk terjun
menjadi seorang pendidik, sudah seharusnya kita mempersiapkan jiwa, raga dan juga
hati kita untuk keberhasilan belajar peserta didik. Hal ini dikarenakan guru
bukanlah profesi biasa. Bagi seorang
guru sejati, profesi ini merupakan panggilan jiwa yang tak terhalang oleh tipis
atau tebalnya dinding materi. Kesabaran, keikhlasan dan semangat untuk terus
belajar merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru. Hal ini
dikarenakan setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari
kemampuan akademiknya, maupun dari perilakunya. Bahkan setiap generasi memiliki
karakteristik sendiri yang selalu dinamis.
Dalam
menjalankan aktifitasnya, seorang guru tidak jarang berhadapan dengan anak-anak
didik yang bermasalah, baik bermasalah dengan
kemampuan belajarnya dikelas maupun dengan akhlaknya. Dalam kondisi
ini, seorang guru dituntut untuk senantiasa ikhlas dan sabar dalam menghadapi
peserta didik yang bermasalah tersebut, bukan menyalahkan mereka. Hal ini
dikarenakan seorang guru sadar bahwa masalah-masalah yang dialami oleh peserta
didik merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri yang harus dilewati. Selain
itu, bagi seorang guru sejati, tugas untuk mendidik anak tidak berakhir ketika
lonceng sekolah berbunyi. Bagi mereka, tugas mendidik anak berakhir ketika ruh
sudah terlepas dari jasad mereka.
Adapun untuk bab
materi, seorang guru yang ikhlas sadar betul bahwa rezeki itu datangnya dari
Allah, bukan dari atasan lembaga dimana mereka bekerja. Kita sering melihat
banyak sekali guru honorer dengan gaji tidak seberapa, namun kenyataannya
mereka masih bisa hidup sampai sekarang, bahkan bisa menyekolahkan anak-anak
mereka. Disisi lain, tidak sedikit guru-guru yang berstatus PNS dan sudah lulus
sertifikasi, namun pada kenyataannya mereka tidak bisa hidup dengan tenang
karena dibebani oleh berbagai cicilan, baik itu rumah, kendaraan ataupun yang
lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya rezeki yang kita miliki tidaklah
ditentukan oleh status atau lembaga dimana guru itu bekerja, akan tetapi
ditentukan oleh sejauh mana keikhlasan dan keseriusan kita dalam bekerja untuk
mendidik tunas-tunas bangsa.
Bedasarkan
fakta-fakta diatas, tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang pendidik
untuk tidak bersikap ikhlas dalam bekerja. Apapun posisi kita di sekolah, baik
itu guru akademik maupun wali asrama, seyogyanya kita sambut anak didik kita
dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Adapun untuk materi, yakinlah bahwa
Allah akan memberikan rezeki yang memang sudah hak kita. Seberat apapun atau
sekeras apapun atasan menahan hak kita, niscaya sedikit pun tidak sanggup
menghalangi Allah dalam memberikan rezeki-Nya kepada kita. Allah mempunyai
jalan sendiri untuk memberikan rezeki- Nya kepada kita yang selalu bersikap
ikhlas dan sabar.
Home
Setuju PakGuru....kahade tong ngajarkeun mancing wae...
BalasHapus