Pemilihan gubernur Jawa Barat yang berlangsung hari ini ternyata
memberikan kejutan tersendiri, khususnya bagi warga Jawa Barat.
Setidaknya hal ini terlihat dari 2 hal. Pertama, kasus hukum yang
menimpa mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishak yang notabene partai
pengusung utama pasangan Ahmad Heryawan Dedy Mizwar ternyata tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap elektabilitas pasangan ini pada
pilgub yang digelar hari ini. Kedua, hasil survei yang digelar oleh
beberapa lembaga survei ternyata hampir semuanya meleset, dimana
kebanyakan dari lembaga survei yang ada menempatkan pasangan Ahmad
Heryawan- Dedy Mizwar akan bersaing ketat dengan pasangan Dede Yusuf -
Lex Laksamana. Nyatanya, pasangan Oneng Teten justru menyalip pasangan
yang diusung partai Demokrat ini. Berdasarkan fenomena diatas, ada hal
menarik yang dapat kita cermati. Dengan adanya kasus hukum yang menimpa
partai pendukung utama Petahana, para kompetitor berharap mendapatkan
“berkah” dari adanya kasus ini.Mereka berharap elektabilitas pasangan
ini akan menurun seiring citranya yang tercoreng. Namun ternyata para
kandidat lain yang bersaing pada pilgub jabar ini lupa bahwa PKS
bukanlah partai yang mengandalkan citra. Militansi kader yang dimiliki
merupakan aset utama yang dimiliki oleh partai pendukung petahana ini.
Malah sejak mencuatnya kasus yang membelit mantan petinggi partai ini
menjadikan kader partai ini semakin solid, bukan sebaliknya. Sejak
kelahirannya, partai ini memang tidak mengandalkan figur tertentu untuk
mendongkrak suaranya. Sebaliknya, partai ini justru merekrut kader untuk
ditingkatkan popularitasnya. Hal ini mengingatkan kita pada pengalaman
pilgub jabar tahun 2008 yang lalu. Saat itu hanya segelintir orang yang
mengenal Ahmad Heryawan. Namun berkat militansi kader yang menjalankan
mesin politik secara massif dan rapi ternyata sanggup mengantarkan Ahmad
Heryawan menuju kursi Jabar Satu. Tidak heran pada banyak pilkada di
beberapa daerah, partai ini menjadi rebutan partai lain untuk diajak
bergabung mengusung calon yang diusungnya. Bagaimana tidak, ditengah
kasus yang menimpa mantan petinggi partai ini, seluruh kader diakar
rumput mereka justru semakin massif melakukan “Direct Selling” ke
berbagai pelosok tanpa dibayar sepeserpun. Bahkan mereka tidak peduli
dengan hujan yang mengguyur mereka. Melihat fenomena partai ini dari
waktu ke waktu menjadikan partai ini tak habis untuk didiskusikan.
Bahkan tidak sedikit para pengamat politik maupun mahasiswa pasca
sarjana menjadikan fenomena partai ini sebagai bahan tulisan pada buku
ataupun karya tulis mereka.Terlepas baik atau buruknya partai ini,
seolah partai ini mengajak kita untuk melihat lebih dekat apa yang
sebenarnya terjadi dalam partai ini.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar