Suatu
saat, untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas kerja seperti biasa saya
pun pergi ke waduk cirata untuk memancing. Untuk dapat pergi kesana biasanya
saya menggunakan bis jurusan Ciroyom – Cipeundeuy. Meskipun sudah berumur, bis
ini setia menemani saya sejak masih bujangan sampai sekarang. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya bis
yang ditunggu-tunggu pun datang. Saat itu saya pun langsung naik dan duduk di
kursi paling depan.
Sewaktu menunggu bis yang sedang
ngetem ini, secara tidak sengaja saya menemukan secarik kertas diatas kursi
sebelah saya. Setelah saya baca ternyata kertas tersebut adalah brosur dari
salah satu sekolah swasta yang dipandang
oleh sebagian besar masyarakat merupakan sekolah elit. Maklum saat itu tahun
ajaran baru akan segera tiba sehingga sekolah-sekolah swasta berlomba-lomba
untuk mendapatkan calon peserta didik baru.
Sekilas
brosur tersebut tidak berbeda dengan brosur-brosur lainnya. Didalamnya terdapat
profil lembaga, gambar sarana dan prasarana dan juga prestasi siswa. Namun
pandangan saya tertuju pada tulisan “Tenaga Pengajar Merupakan Lulusan UI, ITB,
UGM, UNPAD dan UPI”. Bagi kebanyakan orang, tidak ada yang istimewa
dari tulisan tersebut. Akan tetapi bagi saya yang merupakan alumni salah satu
perguruan tinggi kependidikan, tulisan tersebut terasa janggal. Bagi saya
pribadi, tulisan tersebut memberikan kesan bahwa lembaga pendidikan tersebut
lebih bangga memiliki tenaga pendidik yang memiliki keahlian dibidang tertentu dibanding
tenaga pendidik yang memang memiliki kompetensi dibidang kependidikan. Padahal
ketika kita berbicara tentang dunia pendidikan, yang dibutuhkan bukanlah
keahlian untuk menciptakan sesuatu, melainkan tentang kemampuan untuk
mentransfer ilmu kepada peserta didik.
Selain itu
kenyataan dilapangan menunjukkan justru guru-guru yang berlatar belakang
kependidikanlah yang lebih berperan dalam menentukan keberhasilan proses
belajar siswa. Tidak hanya itu, dalam tataran manajemen sekolah pun mereka
berhasil menduduki posisi-posisi strategis seperti wakil kepala sekolah bidang
kurikulum atau pun kesiswaan. Hal ini
dikarenakan mereka sudah diberikan bekal yang memadai selama mereka mengenyam
bangku kuliah. Materi materi psikologi
pendidikan, pengelolaan kelas, strategi belajar mengajar, evaluasi hasil
belajar dan materi-materi kependidikan lainnya mereka lahap sewaktu mereka duduk
dibangku kuliah.
Oleh karena
itu, sudah saatnya setiap lembaga pendidikan merasa bangga memiliki SDM yang
memang memiliki kompetensi dibidang kependidikan, dari pada menonjolkan
orang-orang yang tidak memiliki bekal sebagai pendidik hanya karena
mereka berasal dari perguruan tinggi ternama. Dengan begitu, guru-guru
yang memang mempunyai latar belakang
kependidikan akan merasa diakui keberadaannya dan akan merasa bangga bekerja di
lembaga tersebut
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar