Literasi Al-Qur’an di kalangan siswa
Sekolah Menengah Atas (SMA) secara nasional dalam beberapa dekade terakhir
cenderung menurun. Adapun latar belakang keagamaan siswa sebelum memasuki
jenjang SMA, status sekolah, kondisi keluarga serta lingkungan masyarakat
sekitar merupakan faktor yang cukup berpengaruh terhadap indeks literasi Al-Qur’an
di kalangan siswa SMA. Selain itu ketersediaan guru (berkuaitas) serta kondisi prasarana
sekolah pun turut menentukan tercapainya indeks literasi Al-Qur’an seperti yang
diharapkan.
Hal itu diungkapkan oleh
Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, dan Pelatihan Kementerian
Agama Abd Rahman Mas’ud dalam acara Seminar Hasil Penelitian Indeks Literasi Al
– Qur’an Nasional yang digelar pada tanggal 1- 2 Desember lalu (PR, 03/12/2016).
Pemerintah pun diharapkan segera merumuskan kebijakan yang komprehensip guna
memperbaiki kondisi tersebut.
Di
lain pihak degradasi moral di kalangan remaja yang semakin hari kian parah
seakan menjadi pekerjaan rumah yang entah kapan dapat diselesaikan. Berbagai
persoalan yang menyelimuti generasi muda kita menjadi ganjalan utama bagi
bangsa ini untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa – bangsa lainnya. Penyalahgunaan
narkoba serta pergaulan bebas seakan menjadi “identitas” yang melekat pada diri
pemuda yang dikenal sebagai calon – calon pemimpin bangsa itu.
Data dari Badan Narkotika
Nasional (BNN) menyebutkan, tak kurang dari 5,9 juta jiwa penduduk Indonesia
tercatat sebagai pengguna narkoba. Jumlah tersebut dikhawatirkan akan terus
bertambah seiring makin gencarnya para bandar narkoba dalam mengedarkan barang
dagangannya dengan berbagai modus. Adapun jumlah pelajar SMP dan SMA yang pernah
melakukan hubungan seksual di luar pernikahan menurut Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional Pusat (BKKBN) mencapai 63 persen.
Berdasarkan penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa terdapat kaitan yang sangat erat antara menurunnya
literasi Al-Qur’an di kalangan pelajar dengan maraknya perilaku menyimpang yang
mereka lakukan. Dalam hal ini pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah
tidak akan ada artinya apabila masih terdapat “jarak” antara peserta didik
dengan kitab sucinya. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an berisi pedoman hidup yang
semestinya dijadikan rujukan oleh ummat Islam dalam menjalankan kehidupannya. Selain
itu keteladanan Nabi dan Rasul yang dikisahkan dalam Al-Qur’an merupakan contoh
yang tepat untuk dijadikan panutan oleh anak didik kita dalam berperilaku.
Adapun untuk mendekatkan
anak didik kita dengan Al-Qur’an, membiasakan mereka untuk membaca Al – Qur’an
sebelum ataupun sesudah kegiatan pembelajaran merupakan salah satu upaya yang
dapat dilakukan oleh guru. Tak hanya itu, menjadikan hafalan Al – Qur’an
sebagai salah satu muatan lokal pun dapat dilakukan oleh pihak sekolah sebagai
nilai tambah yang membedakan sekolahnya dengan sekolah – sekolah lainnya. Kebijakan
tersebut telah diterapkan di beberapa sekolah swasta yang menerapkan sistem full day. Dengan demikian, anak didik
kita pun akan mampu tumbuh menjadi pribadi unggul dan berkarakter. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi 08 Desember 2016)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar