Berlakunya paradigma lama yang
memandang lembaga pendidikan sebagai satu-satunya tempat dimana proses
pendidikan dapat dijalankan nyatanya berdampak pada rendahnya partisipasi
orangtua dalam mendidik anak. Tingginya tuntutan orangtua kepada pihak sekolah
yang tidak diikuti dengan upaya tindak lanjut di rumah mengakibatkan proses
pendidikan yang dilakukan berjalan secara parsial. Akibatnya, anak tidak mampu tumbuh menjadi
pribadi yang utuh sebagai akibat dari proses pembelajaran yang tidak tuntas.
Ironisnya, guru sering kali diposisikan sebagai (satu-satunya) “terdakwa”
manakala kualitas output yang
dihasilkan tidak sesuai dengan harapan orangtua.
Kesadaran masyarakat akan pentingnya peran
keluarga sebagai “sekolah” pertama dan paling utama bagi anak memang semakin hari kian tak terlihat.
Sebaliknya, berlomba-lomba untuk mendapatkan kursi di sekolah-sekolah favorit demi
anak tercintanya seakan menjadi “tradisi” menjelang tahun ajaran baru tiba.
Lembaga pendidikan dipandang sebagai satu-satunya sarana bagi anak untuk dapat
tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya. Sedangkan keluarga
hanyalah tempat dimana anak biasa
“singgah” untuk menghilangkan rasa lapar dan hausnya.
Di sisi lain kisruh dualisme
kurikulum yang terjadi selama beberapa tahun terakhir secara tidak langsung
berpengaruh terhadap kinerja guru di lapangan. Banyaknya tugas-tugas administrasi yang harus
diselesaikan tak jarang mengakibatkan tugas utama guru dalam mendidik anak
menjadi terabaikan. Guru lebih sibuk
menyusun perangkat pembelajaran daripada melaksanakan proses pembelajaran itu
sendiri. Tak heran apabila peningkatan kemampuan (akademik) siswa pun tidak
lagi menjadi agenda utama. Adapun upaya pembentukan karakter seperti yang
diamanatkan oleh kurikulum pun tinggal sebatas angan yang hampir mustahil untuk
direalisasikan.
Kondisi yang digambarkan oleh penulis
di atas pada akhirnya mendatangkan konsekuensi yang tidak sederhana. Sikap
(sebagian) orangtua yang menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak sepenuhnya
kepada sekolah mengakibatkan anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mengenal
norma. Berbagai perilaku menyimpang yang
dilakukan oleh para remaja seakan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
“modern” yang kental dengan budaya hedonisme dan materialisme. Pada akhirnya,
bonus demografi yang akan diperoleh oleh bangsa ini pun lebih berpotensi
menjadi musibah daripada berkah.
Untuk menjadikan anak sebagai pribadi
yang utuh, diperlukan peran aktif orangtua dalam upaya pembentukan karakter
sejak dini. Mengajarkan nilai ataupun norma pada anak saat mereka hendak
memasuki bangku sekolah, jauh lebih penting dari sekedar mengenalkan bacaan
maupun hitungan. Dalam hal ini orangtua diharapkan mampu menjadikan keluarga
sebagai “sekolah” pertama bagi anak dimana mereka dapat belajar tentang aturan-aturan
yang harus mereka jadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan
demikian, lahirnya generasi unggul dan berkarakter seperti yang dicita-citakan pun
dapat benar-benar terwujud. (Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Awal Mei 2016)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar