Tingginya animo masyarakat untuk
mendaftarkan putra – putri mereka ke sekolah-sekolah favorit nampaknya menjadi
pemandangan rutin menjelang pergantian tahun ajaran. Berbagai cara dilakukan
orangtua agar anaknya diterima di sekolah yang mereka anggap paling baik. Mulai
dari mempersiapkan anaknya dengan cara mengikuti bimbingan belajar, mengurangi
jam bermain anak, sampai dengan menjanjikan hadiah bagi anaknya apabila mereka
lulus ke sekolah favorit dilakukan orangtua beberapa saat sebelum dibukanya
seleksi penerimaan siswa baru. Tak hanya itu,
tanpa memahami betul keunggulan sekolah-sekolah favorit yang dimaksud,
orangtua bahkan rela menempuh jalan yang “tidak wajar” demi mendapatkan kursi
untuk buah hatinya.
Hadirnya
sekolah-sekolah unggul memang menjadi kebutuhan masyarakat di tengah beragamnya
tantangan yang harus dihadapi oleh generasi saat ini. Membekali anak dengan
pendidikan yang berkualitas dipandang
sebagai ikhtiar terbaik yang dapat dilakukan orangtua untuk masa depan anak mereka. Kegagalan dalam
memilih sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak, hanya akan membuat proses
pendidikan yang dilaksanakan selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.
Di
sisi lain rendahnya budaya literasi di kalangan pelajar menjadi pekerjaan rumah
yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan. Berdasarkan data dari UNESCO
pada tahun 2012, indeks membaca orang Indonesia hanya sebesar 0,001. Artinya
satu buku dibaca oleh seribu orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura dan
Hongkong dimana seribu orang membaca sedikitnya 550 buku. Sungguh mengharukan
!. Di Indonesia buku tak lagi menjadi teman setia pelajar masa kini. Budaya
membaca, menulis dan berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar yang konon
sering disebut sebagai generasi penerus bangsa ini. Remaja kita ternyata lebih
sering menghabiskan waktu didepan televisi maupun didepan laptop untuk
menyaksikan acara kesayangan mereka maupun bercengkarama dengan teman
sejawatnya melalui media sosial.
Tak
heran apabila posisi juru kunci pun kerap kali diraih oleh bangsa yang besar
ini dalam berbagai survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional. Berdasarkan
data dari Programme for International Student Assesment (PISA) pada
tahun 2012 yang lalu, Indonesia menempati peringkat ke 64 dalam hal kemampuan
membaca dan menulis dari 65 negara yang diteliti. Hal ini tentunya menjadi
sebuah ironi di tengah banyaknya sekolah favorit serta semakin meningkatnya
anggaran pendidikan dari waktu ke waktu.
Buramnya
potret pendidikan di tanah air tersebut antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan
sekolah dalam menciptakan iklim literasi di lingkungannya. Perpustakaan yang
seyogyanya berperan sebagai jantungnya sekolah cenderung tidak dikelola dengan
baik oleh mereka yang diberikan amanah. Kondisi ruangan yang tidak nyaman serta
lokasi yang cukup jauh dari jangkauan siswa, membuat mereka enggan untuk
datang. Di samping itu kurangnya SDM khusus yang dapat benar-benar fokus dalam
mengelola perpustakaan mengakibatkan gudang ilmu tersebut semakin tak terurus. Alhasil, perpustakaan
sekolah pun tak jarang menjadi sarang cakcak,
cucunguk, lancah maung jeung sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa.
Untuk
menciptakan iklim literasi di lingkungan sekolah, diperlukan sebuah upaya yang
dilakukan secara sistematik, massif serta berkelanjutan. Adapun Gerakan
Literasi Sekolah yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) beberapa waktu lalu diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak
terhadap buku. Program yang mewajibkan siswa membaca buku setiap hari sebelum
pelajaran dimulai tersebut memang identik dengan Sustained Silent Reading (SSR) seperti yang telah lama diberlakukan di
negara-negara maju dan terbukti mampu meningkatkan budaya literasi di kalangan
pelajarnya.
Namun
demikian, kesuksesan program tersebut sangat bergantung pada sejauh mana
keseriusan sekolah dalam menyediakan sarana pendukung serta komitmen mereka
untuk senantiasa melestarikan budaya membaca dan menulis di kalangan siswanya.
Menghidupkan perpustakaan berbasis kelas merupakan salah satu cara yang dapat
ditempuh oleh sekolah untuk memupuk
kecintaan anak terhadap buku di saat
perpustakaan sekolah belum mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam hal ini
pengelola sekolah dapat membuat perpustakaan mini di setiap kelas dan mengajak siswanya untuk
membiasakan aktivitas membaca sebelum memulai pelajaran. Jika diperlukan, guru
dapat menugaskan siswanya untuk membuat resume untuk setiap buku yang mereka
baca. Selain itu penghargaan pun dapat diberikan kepada siswa yang rajin
membaca buku.
Adapun
untuk menambah koleksi buku-buku terbaru, sekolah dapat menjalin kemitraan
dengan lembaga lain yang sama-sama memiliki misi untuk memajukan dunia
pendidikan. Dalam hal ini sekolah dapat memanfaatkan dana Corporate Social
Responsibiliyt (CSR) yang biasa diberikan oleh perusahaan-perusahaan yang
ada di sekitar mereka. Selain itu siswa pun dapat berpartisipasi aktif melalui
program One Student One Book (OSOB).
Melalui program ini setiap siswa diberikan kesempatan untuk
menyumbangkan sebuah buku yang nantinya akan digunakan oleh mereka sendiri
maupun adik-adik kelasnya.
Berdasarkan
gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa sekolah unggul bukanlah sekolah yang
sarana belajarnya paling lengkap maupun sekolah yang hanya mampu mengantarkan
anak didiknya ke sekolah-sekolah lanjutan maupun perguruan tinggi favorit.
Sekolah unggul adalah sekolah yang mampu menciptakan iklim literasi di
lingkungannya sehingga mampu menjadikan anak didiknya sebagai generasi yang
cinta membaca, menulis dan berdiskusi.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar