Kemerdekaan yang diraih oleh
bangsa ini sejak 70 tahun silam ternyata belum sepenuhnya dirasakan
oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai persoalan yang dialami oleh
para guru saat ini membuktikan bahwa mereka belum mampu membebaskan
diri dari belenggu yang selama ini memasung kreativitasnya. Tak heran
jika output
yang dihasilkan pun masih jauh dari harapan.
Bagi seorang pendidik,
kemerdekaan sendiri memiliki tiga arti penting. Pertama, merdeka
dari rasa lapar. Masalah kesejahteraan guru nampaknya masih menjadi
persoalan utama yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan.
Tuntutan dari para guru (honorer) kepada pemerintah agar segera
memperbaiki taraf hidupnya seharusnya dipandang sebagai persoalan
serius, bukan sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang guru dapat
mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada peserta didik sementara dia
sendiri dalam keadaan lapar.
Kedua, merdeka dari
kepentingan politik. Seiring diberlakukannya otonomi daerah, peran
guru (PNS) sebagai abdi negara pun perlahan bergeser menjadi abdi
kepala daerah. Dalam banyak kasus, tak jarang para guru dipaksa untuk
menjadi tim sukses bayangan oleh calon kepala daerah yang akan
bersaing. Adapun bagi mereka yang berusaha untuk menolak, ancaman
mutasi serta intimidasi dari atasan pun selalu mengintai setiap saat.
Ketiga, merdeka untuk
mengembangkan kreativitasnya. Kebijakan pemerintah untuk tetap
memaksakan kurikulum baru bagi sekolah-sekolah yang dipandang telah
siap, secara tidak langsung telah membelenggu potensi serta
kreativitas para guru. Dalam hal ini guru sebagai pihak yang
benar-benar memahami kondisi peserta didik seharusnya diberikan
keleluasaan untuk memilih serta mengembangkan kurikulum sesuai
potensi peserta didik serta sarana yang dimiliki oleh sekolah.
Mengingat pentingnya arti
sebuah kemerdekaan bagi guru dalam mendidik tunas-tunas bangsa, sudah
saatnya semua pihak bergerak untuk memberikan kontribusinya.
Pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan tertinggi diharapkan
mampu memenuhi berbagai kebutuhan yang dimiliki oleh guru. Besarnya
anggaran yang dikeluarkan hendaknya dipandang sebagai sebuah
investasi dan bukan beban.
Adapun pemerintah daerah
hendaknya benar-benar menyadari bahwa tugas utama seorang guru adalah
mendidik anak. Mendorong mereka ke dalam pusaran politik hanya akan
membuat harkat dan martabat guru jatuh di hadapan masyarakat. Oleh
karenanya mendukung guru agar bersikap netral merupakan keputusan
yang bijak.
Selain kedua hal diatas, yang
tak kalah penting adalah memberikan kepercayaan kepada guru untuk
mendidik tunas-tunas bangsa sesuai dengan potensinya. Guru tentunya
lebih mengetahui kurikulum mana yang sesuai digunakan di sekolah nya.
Melalui berbagai upaya
diatas, kita berharap setiap guru dapat memperoleh kemerdekaan
sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Dengan
begitu mereka pun dapat mencurahkan segenap potensi serta
kreativitasnya dalam mendidik tunas-tunas bangsa sesuai dengan yang
diharapkan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar