Bagi sebagian orang, menulis di media cetak merupakan suatu
hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Setiap
orang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menulis. Yang dibutuhkan hanyalah
kemauan dan konsistensi dalam melaksanakan aktivitas menulis.
Berawal dari kegundahan saya ketika
melihat banyaknya aspek dalam dunia pendidikan kita yang harus segera
diperbaiki, saya pun mencoba menuliskan unek-unek saya dalam sebuah blog
gratisan yang dulu saya buat. Tulisan tersebut kemudian saya bagikan di media
sosial. Tak disangka, banyak juga orang lain yang berpendapat sama dan sama
sama merasakan apa yang saya rasakan, meskipun ada juga yang tidak sependapat.
Akan tetapi, tulisan saya tersebut setidaknya mampu merangsang orang lain untuk
mengomentari tulisan saya.
Beberapa hari kemudian saya pun
mencoba membuat tulisan lain dengan tema yang berbeda. Seperti biasa tulisan
tersebut saya bagikan juga di media sosial. Berbagai komentar pun mulai
berdatangan baik yang pro maupun yang kontra. Namun ada satu komentar dari
seseorang yang membuat saya ketagihan untuk menulis di media cetak hingga saat
ini. Orang yang berkomentar tersebut menganjurkan saya agar mengirimkan tulisan
tersebut ke salah satu media cetak.
Setelah itu saya pun mencoba mengikuti saran tersebut.
Ternyata tulisan yang saya kirim
tersebut tidak dimuat oleh media cetak yang dimaksud. Namun demikian saya pun
tidak kecewa, toh tujuan saya menulis juga bukan untuk itu melainkan untuk
mengeluarkan ide dan unek-unek saya, kali aja ada yang nyambung. Meskipun
begitu saya pun tetap mencoba
mengirimkan tulisan ke media cetak tersebut hingga sebelas kali sampai
datanglah waktu yang membuat hidup saya berubah 180 derajat.
Suatu sore sepulang dari aktivitas
mengajar di sekolah, saya menerima pesan singkat dari istri tercinta yang juga
sama-sama selesai mengajar bahwa dia melihat foto saya ada di Koran. Saya pun
hampir tidak percaya mendengarnya karena satu-satunya wajah saya muncul di
Koran adalah sewaktu melakukan aksi demonstasi di jalan saat saya masih
mahasiswa. Saya pun meminta istri untuk kembali melihat foto tersebut dengan
sebaik-baiknya beserta keterangan yang ada didalamnya.
Sungguh diluar dugaan, ternyata itu
adalah tulisan ke sebelas yang saya kirim dua minggu sebelumnya. Sejak saat itu
saya pun semakin bergairah untuk menulis, bukan karena honor yang bisa saya
terima dari media cetak, melainkan rasa bangga karena bisa berbagi ide atau
pikiran dengan orang banyak khususnya yang berprofesi guru seperti saya.
Sejak saat itu pula saya mencoba
mengirimkan tulisan ke berbagai media cetak yang berbeda, baik itu media cetak
nasional maupun lokal seperti surat kabar Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka
dan Siap
Belajar. Hasilnya, tulisan – tulisan saya pun mulai menghiasi media
cetak tersebut. Apresiasi dari rekan
kerja, kepala sekolah sampai dari mertua pun berdatangan, meski tidak sedikit
pula yang meragukan karena tampang saya yang tidak meyakinkan untuk menjadi
penulis. Rekan sekerja saya hanya tahu bahwa hobi saya adalah memancing
sepulang dari sekolah sehingga tidak mungkin mampu membuat tulisan di media
cetak. Selain itu kebiasaan saya minum kopi di ruang guru setiap kali saya
datang ke sekolah, membuat mereka menyangka kepala saya terlalu keruh untuk berpikir
jernih dalam membuat sebuah tulisan yang berbobot.
Adapun beberapa tips untuk membuat
tulisan di media cetak anatara lain.
1. Niat
Niat membuat tulisan sangat penting
dalam menjaga konsistensi menulis. Oleh karena itu niatkan membuat tulisan untuk
berbagi dan bersilaturrahim, bukan karena hal-hal lain. Tanpa adanya niat yang
tulus, kebiasaan menulis pun akan berhenti di tengah jalan.
2. Pantang Menyerah
Saat tulisan yang anda kirimkan tidak
dimuat oleh media cetak, janganlah berputus asa. Cobalah baca kembali apakah
tulisan anda sesuai dengan fenomena yang sedang hangat sat ini, apakah
ejaannnya benar, apakah data-datanya valid ? jika tidak cobalah perbaiki lagi
kemudian krimkan kembali. Saya sendiri punya pengalaman saat tulisan saya tidak
dimuat di salah satu media cetak, maka saya coba perbaiki dan kemudian dikirim
ke media cetak yang lain dan ternyata dimuat. Bahkan, beberapa tulisan yang
tidak dimuat di media cetak sebelumnya, saya kirim ke media cetak yang lain
tanpa adanya perbaikan dan hasilnya tetap dimuat.
3. Pahami Karakteristik Media Cetak
Setiap media cetak tentunya memiliki
karakter yang berbeda-beda. Misalnya saja media Cetak A lebih menyukai tulisan
yang tema, judul maupun isinya “menggigit”, mengandung konflik maupun polemik.
Sedangkan media cetak B lebih menyukai tulisan yang penyampaiannya datar,
bersifat solutif dan menjauhi konflik atau polemik. Selain itu hal lain yang
harus diperhatikan adalah jumlah kata dari tulisan yang kita buat. Panjang atau
pendeknyanya tulisan memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan diterima
atau tidaknya sebuah tulisan, akan tetapi cukup berpengaruh terhadap dimuat
atau tidaknya tulisan tersebut. Untuk mengetahui jumlah kata yang harus dibuat,
kita bisa melihat tulisan oranglain yang pernah dimuat.
4. Mendapatkan Ide Tulisan
Ide untuk mendapatkan tulisan sebenarnya
bisa datang dari mana saja, bisa dari Koran, televisi, internet maupun dari
sumber-sumber lainnya. Namun demikian tulisan akan lebih berbobot dan “berjiwa”
apabila tulisan tersebut menceritakan apa yang sedang kita alami. Misalnya saja
dampak rencana dihapuskannya sertifikasi bagi guru yang tidak memiliki ijazah
yang linier dengan mapel yang diajarkannya. Selain itu sering melakukan diskusi
dengan sejawat pun akan semakin menambah ide dalam membuat tulisan.
5. Tulislah Tema Dikuasai atau Disukai
Buatlah tulisan tentang hal yang
memang sesuai dengan latar belakang anda atau tentang hobi yang anda sukai. Hal
tersebut tentunya akan dijadikan pertimbangan oleh pihak media cetak meskipun
itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan dimuat atau tidak nya sebuah
tulisan. Saya sendiri menulis berbagai hal tentang dunia pendidikan karena
profesi saya adalah seorang guru.
Akhir kata saya pun selalu mencoba memotivasi diri saya untuk
tetap menulis dengan sebuah bait yang berbunyi :
Puluhan kali kau tolak cintaku
Ratusan kali kan kunyatakan kembali
Ribuan kali kau tolak naskahku
Jutaan kali kan kukirimkan kembali.
Home



Terima kasih udah sharing pak, cerintanya sangat inspiratif (y)
BalasHapus