Sudah hampir sepekan berjalan, seluruh siswa di sekolah
tempat penulis mengabdi saat ini terpaksa harus mengikuti proses pembelajaran
tanpa menggunakan buku paket. Orangtua pun mulai khawatir anaknya tidak dapat mengikuti
pembelajaran secara optimal. Padahal jauh-jauh hari mereka telah diberi tahu
oleh sekolah bahwa buku tersebut akan diterima anaknya pada saat tahun ajaran
baru dimulai sesuai dengan janji Mendikbud.
Kekhawatiran
para orangtua tersebut memang cukup beralasan. Tahun lalu saja terdapat salah satu sekolah
sasaran kuirkulum 2013 di daerah kami yang hingga semester dua sudah berjalan,
buku paket yang dijanjikan pemerintah tersebut belum juga diterima oleh anak. Akibatnya,
proses pembelajaran pun menjadi terganggu sehingga anaklah yang dirugikan.
Di sisi lain
sekolah pun nampaknya berada pada posisi yang sulit. Hal ini dikarenakan
himbauan pihak Kemendikbud yang melarang sekolah untuk membeli buku paket
diluar daftar penerbit resmi pemenang lelang pengadaan buku tersebut. Selain
dikarenakan harganya jauh lebih mahal, secara substansi buku tersebut
dikhawatirkan tidak sesuai dengan arahan yang dirancang oleh Kemendikbud.
Ada dua hal
yang menjadi perhatian penulis dalam menyikapi “kisruh” keterlambatan buku
tersebut. Pertama, murahnya harga yang ditawarkan oleh penerbit resmi tentunya
akan sangat berpengaruh terhadap kualitas buku yang dicetak. Dunia anak
terutama Sekolah Dasar (SD) adalah dunia yang penuh warna. Anak yang terbiasa
menggunakan buku berkualitas (premium) tentunya akan menjadi tidak nyaman jika
tiba-tiba harus belajar menggunakan buku yang secara visual apa adanya. Hal ini
tentunya akan sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar mereka.
Kedua,
secara substansi buku yang disediakan oleh penerbit resmi buku kurikulum 2013
memang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi berharap pada sesuatu
yang tak pasti juga bukanlah keputusan yang bijak. Menunggu datangnya buku
tersebut tanpa adanya kepastian kapan anak dapat menerimanya tentunya akan
menghambat proses pembelajaran yang sedang berjalan.
Menyikapi
kondisi seperti ini, ada baiknya pihak sekolah bermusyawarah dengan orang tua
untuk mencari solusinya. Menawarkan kepada mereka untuk membeli buku dari
penerbit yang benar-benar siap menyediakan buku tepat waktu dan berkualitas
sekalipun penerbit tersebut tidak resmi dan harganya lebih mahal nampaknya
pilihan yang tepat (setidaknya untuk saat ini). Masa depan anak-anak kita
terlalu sayang untuk dipertaruhkan oleh kekisruhan semacam ini. Masyarakat
memang menginginkan pendidikan yang murah, namun kualitas tetap harus
diutamakan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar