Perubahan gaya hidup masyarakat modern seperti saat
ini ternyata membawa dampak yang cukup besar terhadap pola asuh anak. Adanya
fenomena yang berkembang dimasyarakat dimana tidak hanya ayah yang bekerja menyebabkan
orang tua harus mencari cara agar anaknya tetap mendapatkan pendidikan dan
pengasuhan yang baik. Akhirnya sekolah pun mereka jadikan sebagai tempat
penitipan anak (TPA) untuk mengasuh anaknya. Bagi masyarakat “modern” sekolah
tidak lagi menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk menunutut ilmu, lebih dari
itu mereka jadikan sekolah sebagai tempat untuk menitipkan anak-anak mereka
selagi mereka sibuk bekerja diluar.
Fenomena
semacam ini biasanya terjadi pada sekolah-sekolah yang menerapkan sistem full day maupun sekolah islam terpadu
yang memang memiliki waktu belajar yang relatif lebih lama dibandingkan
sekolah-sekolah lainnya. Jika siswa disekolah lain hanya belajar sampai dengan
pukul 12.00, tidak demikian halnya dengan sekolah yang menggunakan sistem full day. Disana anak tinggal disekolah
dari pagi hingga sore hari. Kesempatan inilah yang digunakan oleh para orang
tua untuk menitipkan anak-anaknya. Mereka dapat bekerja dengan tenang dikantor
tanpa ada yang “mengganggu”.
Persoalan
muncul manakala berbagai hal yang dijanjikan oleh orang tua ketika proses
wawancara seperti akan tetap menjaga komunikasi dengan pihak sekolah dan
membimbing anaknya dirumah ternyata tidak terbukti di lapangan. Keberadaan anak
dirumah tidak dipandang sebagai kesempatan untuk lebih mendekatkan hubungan
antara anak dan orang tua, khususnya dalam mendampingi anak untuk belajar
dirumah. Keberadaaan anak dirumah malah dianggap sebagai “pengganggu” aktivitas
orang tua dalam menjalankan pekerjaan kantor atau bisnisnya. Maka tak heran
jika waktu libur tiba banyak orang tua yang mengeluh karena harus membawa
anaknya ke tempat kerja. Sungguh memprihatinkan !
Akibatnya setiap kali ada persoalan yang
dialami oleh siswa, biasanya pihak sekolah yang selalu disalahkan. Mereka
beranggapan pihak sekolah lah yang bertanggung jawab atas keseluruhan proses
perkembangan akademik maupun akhlak anak-anak mereka. Sementara kewajiban orang
tua hanya membayar SPP setiap bulan dan setelah itu selesai. Disisi lain, pihak
sekolah menganggap orang tua lah yang lebih bertanggung jawab atas perkembangan
anaknya mengingat sebagian besar waktu yang dimiliki anak dihabiskan dirumah.
Alhasil saling lempar tanggung jawab pun tak terhindarkan dan anaklah yang pada
akhirnya menjadi korban.
Andai
saja orang tua mau sedikit saja meluangkan waktunya untuk secara rutin
berkomunikasi dengan pihak sekolah dalam hal ini wali kelas mungkin orang tua
dapat memahami kondisi objektif anaknya. Akan tetapi fakta di lapangan
menunjukkan, masih banyak orang tua hanya mau mengantarkan anaknya sampai
gerbang sekolah, setelah itu langsung berangkat ke kantor. Begitu pun ketika
menjemput, mereka hanya mau menunggu diluar. Kalaupun masuk ke area sekolah tak
lain hanya untuk membayarkan uang SPP saja. Kebiasaan semacam ini tentu saja
menimbulkan kesan bahwa sekolah tak ada bedanya dengan TPA.
Paradigma
keliru tentang sekolah ini tentu saja harus segera dirubah. Sekolah bukanlah
tempat untuk menitipkan anak sementara orang tua bekerja. Sekolah adalah tempat
dimana anak-anak dididik agar menjadi insan yang berilmu dan berakhlak mulia.
Namun demikian, tujuan mulia tersebut akan tidak akan terwujud tanpa adanya
peran serta orang tua dirumah yang melanjutkan atau menyempurnakan proses
pendidikan yang dilakukan oleh sekolah.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar