Ujian Nasional (UN) untuk tingkat
SMA dan sederajat baru saja usai. Para siswa pun tinggal menunggu hasilnya yang akan diumumkan
beberapa pekan kedepan. Berbagai
persiapan akademik maupun non akademik sebenarnya telah mereka lakukan dalam
rangka menyambut hajatan tahunan ini. Mulai dari kegiatan pengayaan, try out sampai dengan do’a bersama
dilakukan oleh para siswa demi mendapatkan hasil yang maksimal. Tak hanya itu,
beberapa siswa bahkan sengaja mengunjungi makam leluhurnya agar diberikan
kemudahan dalam mengisi soal-soal ujian. Hal ini mereka lakukan mengingat UN tahun ini
turut menentukan kelulusan mereka untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Berkaca dari
pengalaman UN pada tahun-tahun sebelumnya, suasana saat pelaksanaan UN biasanya
berlangsung cukup tegang. Perasaan takut (tidak lulus), gelisah sampai dengan
frustasi sering kali dirasakan oleh para siswa saat mengerjakan soal-soal UN.
Suasana pun bertambah tegang manakala beberapa aparat kepolisian datang untuk
memantau pelaksanaan UN di sekolah-sekolah. Sekolah seakan dipandang sebagai
salah satu tempat yang berpotensi terjadinya suatu kejahatan. Bahkan saat siswa
akan ke tolilet pun harus ditemani oleh pengawas. Siswa seakan dianggap sebagai
individu yang tidak lagi dapat dipercaya.
Jika kita
bandingkan dengan suasana ujian di negara maju, maka kita akan mendapatkan
pemandangan berbeda. Jerman, sebagai salah satu negara maju dimana penulis
pernah mengenyam pendidikan, memiliki cara tersendiri agar peserta didiknya
nyaman saat melaksanakan ujian. Ketika ujian berlangsung, suasana kelas dibuat
senyaman mungkin. Setiap anak diperbolehkan membawa makanan maupun minuman
kedalam kelas. Bahkan saat penulis mengikuti ujian kemampuan berbahasa, setiap
peserta ujian diberikan coklat oleh pengawas ujian yang begitu ramah. Alhasil,
seluruh anak pun seakan menikmati saat-saat ujian tersebut seakan tidak ada
beban. Waktu 2 jam yang diberikan pun seakan tak terasa karena asyik
mengerjakan soal.
Melihat karakteristik
orang Indonesia yang dikenal sangat ramah, sebenarnya bukan hal sulit untuk menciptakan
suasana ujian (nasional) yang humanis. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan usaha
dari pihak sekolah untuk meyakinakan peserta didiknya bahwa ujian (nasional) bukanlah
sesuatu yang harus ditakuti, melainkan untuk dihadapi dan dinikmati. Oleh
karenannya sekolah pun dituntut untuk kreatif dalam menciptakan suasana
menarik saat ujian. Misalnya saja seluruh peserta didik diwajibkan untuk
menggunakan pakaian tradisional sambil membawa makanan khas daerah tersebut
saat ujian berlangsung. Dengan begitu stigma (negatif) tentang ujian (nasional)
yang selama ini melekat pun lambat laun dapat dikurangi.
Bukankah
hakikat dari pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia ? Jika benar adanya,
maka proses evaluasi pun harus dilakukan secara manusiawi pula. (Dimuat di Harian Umum Republika, 22 April 2014)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar