Kebijakan Kementerian Perhubungan
untuk menambah sekolah pilot di Banyuwangi sedikitnya memberikan angin segar
bagi dunia penerbangan kita. Pendirian sekolah penerbangan yang baru tersebut tentunya akan sangat membantu dalam mengatasi
kekurangan jumlah pilot lokal ditengah gempuran “pilot import”. Jumlah penduduk Indonesia yang
mencapai 230 juta jiwa lebih ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan akan
tenaga pilot untuk didalam negeri. Akhirnya tingkat ketergantungan pada pilot asing pun
sangat tinggi.
Berdasarkan
data yang diperoleh dari Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kemenhub, saat ini
Indonesia membutuhkan sekitar 800 tenaga pilot setiap tahunnya . Bahkan untuk kawasan Asia dibutuhkan
sedikitnya 185.00 pilot hingga tahun 2031. Namun dari seluruh sekolah penerbangan yang ada, Indonesia baru mampu mencetak 360 pilot setiap tahunnya. Saat ini hanya terdapat 16 sekolah penerbangan yang ada di
Indonesia. Jumlah tersebut tentu saja belum cukup untuk menampung banyaknya
calon siswa yang bercita-cita menjadi pilot. Alhasil, tingkat persaingan pun sangat
ketat dan calon siswa yang tidak lulus harus ikhlas menghapus cita-citanya.
Selain
kurangnya jumlah sekolah penerbangan, kendala lain yang dialami oleh dunia
penerbangan kita adalah mahalnya biaya pendidikan untuk menjadi seorang pilot
profesional. Saat ini biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang taruna untuk
pendidikan selama 18 bulan disekolah penerbangan milik Kemenhub mencapai Rp. 70
juta. Sedangkan untuk sekolah penerbangan yang dikelola oleh swasta biayanya
bisa mencapai sepuluh kali lipatnya.
Tingginya
kebutuhan akan tenaga pilot sejatinya merupakan peluang bagi insan-insan pribumi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Tingginya pendapatan tenaga pilot tentu akan sangat membantu perekonomian
keluarga dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Besarnya anggaran pendidikan yang
dimiliki oleh pemerintah yang berasal dari APBN ditambah dengan dana abadi yang
jumlahnya mencapai belasan triliun rupiah seharuasnya mampu digunakan untuk
membangun puluhan sekolah penerbangan tambahan diseluruh pelosok nusantara.
Sebagai
informasi, hingga tahun 2013 dana abadi pendidikan yang terkumpul mencapai Rp.
15,6 Triliun. Sayangnya dana sebesar itu hanya disimpan dalam bentuk deposito
maupun obligasi untuk kemudian diambil bunganya. Hal ini mencerminkan bahwa
sekolah penerbangan ternyata belum dipandang sebagai lembaga pendidikan yang
memiliki prospek yang menjajnjikan.
Untuk
mengurangi ketergantungan terhadap pilot asing sekaligus meningkatkan
kesejahteraan (pilot) pribumi, dibutuhkan political will yang kuat dari pemerintah untuk mau
berinvestasi dengan cara membangun sekolah-sekolah penerbangan yang baru sehingga mampu menampung
lebih banyak jumlah calon siswa yang berminat menjadi pilot.
Membangun
sekolah khususnya sekolah penerbangan sejatinya merupakan investasi Sumber Daya
Manusia dibidang penerbangan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi
tantangan dimasa depan. Akan segera dibukanya keran perdagangan bebas tentu
harus disambut dengan mempersiapkan SDM yang berkualitas. Dengan begitu kita
pun mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk dan tenaga asing dan pada
akhirnya kita pun mampu berjaya dinegeri sendiri.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar