Membaca berita yang berjudul “Negara tanpa
Pilot” (Republika, 08/07/2013”) memang sangat memprihatinkan. Ternyata bukan hanya bahan
pangan dan kendaraan saja yang harus kita import namun juga pilot pesawat. Jumlah
penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa lebih ternyata tidak mampu
memenuhi kebutuhan akan tenaga pilot untuk didalam negri. Akhirnya tingkat
ketergantungan pada pilot asing pun sangat tinggi.
Berdasarkan
data yang diperoleh dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), saat ini Indonesia
membutuhkan sekitar 600 tenaga pilot setiap tahunnya. Namun dari seluruh
sekolah penerbangan yang ada di Indonesia baru mampu mencetak 250 pilot setiap
tahunnya. Saat ini hanya terdapat 18 sekolah penerbangan yang ada di Indonesia.
Jumlah tersebut tentu saja belum cukup untuk menampung banyaknya calon siswa
yang bercita-cita menjadi pilot. Alhasil, tingkat
persaingan pun sangat ketat dan calon siswa yang tidak lulus harus ikhlas
menghapus cita-citanya.
Kurangnya
jumlah sekolah penerbangan ini sejatinya direspon oleh pemerintah dengan
membangun sekolah-sekolah penerbangan yang baru.
Pemerintah hendaknya tidak melulu membangun sekolah-sekolah yang pada akhirnya
hanya menghasilkan para sopir angkot. Kita tentu tidak mau melihat para pilot
asing berjaya dilangit nusantara ini sementara kita sebagai pribumi hanya
menjadi sopir angkot yang harus saling sikut dijalan dengan saudara sendiri.
Tingginya
kebutuhan akan tenaga pilot seharusnya dianggap sebagai peluang bagi insan-insan pribumi dalam
meningkatkan kesejahteraan mereka. Tingginya pendapatan tenaga pilot tentu akan
sangat membantu perekonomian keluarga dibandingkan hanya menjadi sopir angkot. Besarnya
anggaran pendidikan yang dimiliki oleh pemerintah yang berasal dari APBN ditambah
dengan dana abadi yang jumlahnya mencapai belasan triliun rupiah seharuasnya
mampu digunakan untuk membangun puluhan sekolah penerbangan tambahan diseluruh
pelosok nusantara.
Dengan
membangun sekolah-sekolah yang mencetak tenaga pilot
diharapkan lambat laun ketergantungan terhadap tenaga pilot asing pun dapat
dikurangi. Untuk itu dibutuhkan political
will yang kuat dari pemerintah untuk mau berinvestasi dengan cara membangun
sekolah-sekolah penerbangan yang baru
sehingga mampu menampung lebih banyak jumlah calon siswa yang berminat menjadi
pilot.
Membangun
sekolah khususnya sekolah penerbangan sejatinya merupakan investasi Sumber Daya
Manusia dibidang penerbangan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi
tantangan dimasa depan. Akan segera dibukanya keran perdagangan bebas tentu
harus disambut dengan mempersiapkan SDM yang berkualitas. Dengan begitu kita
pun mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk dan tenaga asing dan pada
akhirnya kita pun mampu Berjaya dinegeri sendiri.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar