Tahun 2013
merupakan tahun politik, dimana sepanjang tahun ini banyak kepala daerah yang
akan berakhir masa jabatannya dan karenanya suksesi kepemimpinan pun harus
dilakukan. Setelah pemilihan gubernur Jawa Barat beberapa waktu yang lalu, kini warga Jawa
Barat juga akan memilih kepala daerah yag baru untuk tingkat kabupaten atau
kota, sebut saja kota Bandung, kabupaten Bandung Barat, kota Bogor, kabupaten
Subang dan juga daerah lainnya.
Dalam menghadapi kompetisi pemilihan
kepala daerah, setiap kandidat yang akan bersaing berusaha mencari
dukungan sebanyak-banyaknya dari semua kalangan masyarakat. Mulai dari tokoh
agama, akademisi, LSM, Ormas sampai organisasi profesi mereka dekati. Tak
terkecuali organisasi
profesi guru yang selalu menjadi incaran para calon kepala daerah, baik di
tingkat provinsi maupun kabupaten / kota. Meskipun tidak menunjukkan dukungan
secara eksplisit dan tidak berafiliasi pada parpol tertentu terlihat jelas peran organisasi ini
dalam mengantarkan seseorang menjadi kepala daerah. Hal ini dapat kita lihat
dari pengalaman pilkada di beberapa kabupaten / kota ataupun provinsi yang ada
di Indonesia. Banyaknya anggota dan
jaringan yang luas yang dimiliki membuat organisasi ini terlihat “seksi” dimata para
kandidat.
Akibatnya semua kandidat yang akan
bersaing berusaha sekuat tenaga untuk merangkul golongan ini. Sehingga tidak
jarang ada kandidat berani menggelontorkan dana yang cukup besar untuk
mendapatkan dukungan dari kelompok ini agar mau mendukung kandidat tersebut,
baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dengan memperoleh dukungan dari
organisasi ini, para kandidat berharap anggota organisasi ini dapat menjadi vote gater mengingat profesi guru yang sangat
strategis untuk mempengaruhi pemilih
pemula yang jumlahnya cukup signifikan.
Sejatinya,
organisasi profesi guru dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan
profesionalisme sekaligus memperjuangkan kepentingan guru sebagai profesi. Selain
itu sejatinya organisasi ini juga terbebas dari kepentingan politik tertentu. Akan
tetapi kuatnya pengaruh dari para kandidat yang akan bersaing ditambah lagi dengan
“kebutuhan” yang dimiliki oleh organisasi ini baik secara lembaga ataupun
perorangan mengakibatkan terjadinya hubungan “simbosis mutualisme” diantara kedua
belah pihak. Kondisi seperti ini tentu saja melahirkan atmosfer tidak sehat,
terutama didalam tubuh organisasi itu sendiri. Adanya beberapa anggota terutama
pejabat teras dari organisasi ini yang secara terang-terangan ataupun
sembunyi-sembunyi menjadi tim sukses bayangan kandidat tertentu mengakibatkan
kekecewaan anggota lainnya yang masih memiliki idealisme.
Akibatnya
tidak sedikit orang-orang yang keluar dari keanggotaan organisasi profesi ini
dan kemudian mendirikan organisasi serupa yang dianggap lebih independen. Lebih
jauh lagi, berdiri pula beberapa organisasi – organisasi profesi guru yang
jelas-jelas menunjukkan dirinya berafiliasi pada salah satu partai politik. Kondisi
ini tentu saja tidak menguntungkan bagi eksistensi organisasi profesi itu
sendiri. Pada akhirnya guru-guru pun akan kebingungan harus kemana mereka
menyalurkan aspirasinya. Selain itu tidak sedikit pula dari mereka yang
akhirnya bersikap apatis terhadap organisasi yang sebenarnya bisa menaungi
mereka.
Oleh karena itu sudah saatnya
organisasi profesi guru kembali ke “khittah” nya, sebagai tempat untuk
mengembangkan profesionalisme sebagai tenaga pendidik dan juga sebagai tempat
untuk menyalurkan aspirasi insan – insan pendidik. Dengan begitu maka organisasi
profesi guru dapat dijadikan sebagai rumah yang nyaman untuk “dihuni” sekaligus
dapat dijadikan sarana untuk menngkatkan kompetensi pendidik yang pada akhirnya
memberikan dampak positif pada prestasi
siswa.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar