Berbicara tentang perlu atau tidaknya ranking di sekolah seakan tak ada habisnya. Sampai
hari ini, perdebatan antara yang mendukung dan tidak mendukung adanya peringkat
dikelas belum menemukan titik temu. Pendapat pun terbagi, mulai
dari yang setuju adanya ranking, menolak mutlak adanya ranking, sampai pendapat
yang menganggap bahwa ranking diperlukan hanya untuk jenjang atau kelas
tertentu saja. Akibat dari adanya perbedaan pandangan ini, kita sering
menemukan sekolah-sekolah yang menerapkan kebijakan yang berbeda tentang
diberlakukannya peringkat dikelas.
Golongan yang mendukung adanya
ranking berpendapat bahwa dengan adanya ranking dikelas akan memotivasi siswa
untuk belajar sebaik-baiknya demi mendapatkan “gelar” nomor satu dikelas.
Selain itu dengan adanya sistem peringkat dikelas ini dapat mengasah mental
kompetisi siswa sejak dini sebagai bekal untuk melanjutkan ke jenjang
pendidikan selanjutnya maupun sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari yang
memang penuh dengan kompetisi.
Adapun kelompok yang menentang
adanya sistem ranking dikelas berpendapat bahwa untuk siswa zaman sekarang
sistem peringkat dikelas sudah tidak relevan lagi. Hal ini dikarenakan
peringkat dikelas hanya terpaku pada nilai akademik semata yang itu belum tentu
menjamin anak akan sukses dikemudian hari. Selain itu dengan hanya berpatokan
pada nilai akademik semata, potensi non akademik siswa seakan tidak muncul.
Padahal bisa jadi bagi sebagian siswa, potensi non akademik itulah yang mungkin
mengantarkan dirinya menjadi orang yang sukses.
Terlepas dari penting atau tidaknya penerapan sistem ranking
dikelas, membandingkan nilai akademik siswa saat ini dengan
nilai yang dia peroleh sebelumnya (ipsative) akan jauh lebih bermanfaat dan
bermartabat daripada sekedar membandingkan prestasi akademik siswa yang satu
dengan siswa yang lain. Terutama bagi siswa sekolah dasar, khususnya dari kelas
1 sampai kelas 4 dimana pada masa ini adalah masa-masa anak untuk bermain.
Janganlah keceriaan mereka direnggut oleh tuntutan terutama dari orang tua
untuk menjadi juara kelas.
Adapun untuk jenjang pendidikan SMU,
penulis berpendapat bahwa sistem peringkat dikelas sama sekali tidak
diperlukan, terutama untuk kelas 12. Hal ini dikarenakan banyak fakta bahwa
mereka-mereka yang memiliki peringkat atas dikelasnya tidak jarang mengalami
kegagalan ketika mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi negeri, dan ini
tentu saja memunculkan banyak pertanyaan. Artinya, peringkat yang diperoleh
dikelas tidak menjamin siswa untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi dengan mudah karena kualitas pembelajaran antara sekolah yang satu
dengan sekolah yang lainnya tidaklah sama.
Berdasarkan fakta-fakta diatas, tak
ada alasan lagi bagi kita untuk tetap memberlakukan sistem ranking dikelas. Hal ini dikarenakan tolak ukur yang
digunakan masih bersifat subjektif dimana hasil belajar yang diperoleh siswa
masih dianggap sebagai tanggung jawab siswa yang bersangkutan. Padahal hasil
belajar tersebut tentu saja sangat dipengaruhi oleh faktor guru yang mengajar. Oleh
karena itu memfokuskan diri pada progress
report siswa akan lebih bermanfaat bagi siswa itu sendiri yang kemudian
dapat memberikan feed back bagi guru
yang bersangkutan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar