Dalam hitungan minggu, ritual tahunan
yang pelaksanaannya tidak dikehendaki oleh sebagian besar kalangan masyarakat dan juga pihak sekolah
akan segera digelar. Pihak sekolah pun disibukkan dengan berbagai persiapan menghadapi
Ujian Nasional tahun ini, mulai dari “Konsolidasi Internal” yang dilaksanakan
tiap pekan, sampai kegiatan-kegiatan pengayaan yang rutin dilakukan diluar jam pelajaran. Dan menjelang
hari pelaksanaan, biasanya kegiatan pun diakhiri dengan acara do’a bersama yang
diikuti oleh seluruh guru dan siswa. Dalam kondisi seperti ini biasanya orang
tua lah yang gelisah apakah anaknya dapat lulus atau tidak. Disisi lain, banyak
anak yang justru hare-hare menghadapi
Ujian Nasional karena mereka yakin akan lulus seperti halnya angkatan
sebelumnya.
Pada
dasarnya ada dua pihak yang berperan besar dalam menentukan lulus atau tidak
siswa dalam UN, yaitu Tim Sukses dan “Tim Sukses”. Meskipun tujuan keduanya
sama, yaitu untuk mengantarkan anak didiknya lulus Ujian Nasional, namun mereka
memiliki paradigma dan cara kerja yang berbeda. Tim Sukses UN memandang proses untuk mencapai
tujuan tak kalah penting dari hasil yang diperoleh. Oleh karena itu mereka bekerja jauh – jauh hari
sebelum UN dilaksanakan. Bahkan sebelum siswa menginjak bangku kelas XII (untuk jenjang
pendidikan SMU), Tim Sukses sudah memiliki program kerja yang siap diimplementasikan. Sehingga ketika
siswa mulai belajar di kelas XII, persiapan Ujian Nasional pun siap dimulai.
Selain itu, Tim Sukses biasanya memiliki target tertentu yang ingin dicapai.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak dari waktu ke waktu .
Berbeda
dengan Tim Sukses, “Tim Sukses” berpandangan bahwa hasil ujian nasional adalah
segala-galanya. Dengan motto hidup “Utamakan Selamat”, proses untuk mencapai
tujuan pun dianggap hal
yang tidak penting. Selain itu “Tim Sukses” biasanya bekerja sehari menjelang
pelaksanaan dan ketika Ujian Nasional berlangsung. Adapun yang menjadi tugas
mereka adalah memastikan siswa dapat mengerjakan semua soal-soal ujian nasional
“dengan baik”. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh “Tim Sukses” ini semata-mata atas
perintah atasan mereka yang juga mendapatkan tekanan dari pengambil kebijakan
yang lebih tinggi. Sebenarnya batin mereka pun berontak ketika harus
mengajarkan ketidakjujuran kepada peserta didik mereka. Namun apa daya, sistem yang
saat ini berlaku lah yang memaksa mereka untuk melakukan pekerjaan yang
sebenarnya mereka sendiri tidak menghendakinya.
Berdasarkan
fakta diatas, ada baiknya kita sebagai tenaga pendidik menyiapkan peserta didik
jauh-jauh hari untuk mengahadapi Ujian Nasional. Jangan biarkan mereka
mengandalkan bantuan “Tangan – Tangan Gaib” untuk menyelesaikan soal-soal Ujian
Nasional. Sekali saja kita mengajarkan ketidakjujuran pada mereka, maka sejatinya
kita baru saja mencetak generasi yang korup. ( Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 28 Februari 2013 )
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar