Tiap
kali menjelang tahun ajaran baru tiba, terlihat para siswa SMA yang
baru lulus Ujian Nasional memenuhi tempat-tempat pembelian formulir
untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Mereka sangat bersemangat
mendapatkan formulir tersebut sampai rela berpanas-panasan ditengah
keramaian. Tujuan mereka tak lain dan tak bukan adalah agar mereka
dapat lulus ke perguruan tinggi dengan jurusan yang mereka minati
dengan harapan setelah lulus kuliah mereka dapat mendapatkan
pekerjaan yang bagus, dengan gaji yang tinggi seperti yang selama ini
“dibisikkan” oleh
orang tua mereka. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan setelah
selesai kuliah ? Ternyata bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan,
akan tetapi kekecewaan yang datang silih berganti. Ternyata apa yang
disampaikan oleh orang tua mereka hanyalah sebuah “Mitos
Lama” yang sampai sekarang masih dianut
oleh sebahagian kalangan. Tidak sedikit dari para lulusan Perguruan
Tinggi yang menekuni pekerjaan yang sebetulnya tidak ada hubungannya
dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Akibatnya muncul kesan,
hasil belajar mereka di bangku kuliah selama bertahun-tahun menjadi
sia-sia. Lebih parah lagi tidak sedikit pula para lulusan Perguruan
Tinggi yang akhirnya hanya menjadi pengangguran terdidik, dan pada
akhirnya lembaga lah yang sering kali disalahkan.
Dimana
akar masalahnya ?
Setidaknya
ada tiga sebab yang menyebabkan kondisi diatas. Pertama,
Kebanyakan dari anak-anak kita yang melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi hanya berorientasi pekerjaan semata. Tujuan
tersebut memang tidak sepenuhnya salah, akan tetapi kondisi di
lapangan sering kali berbeda dengan harapan. Mungkin zaman dulu
berbekal kemampuan membaca, menulis dan menghitung sudah cukup untuk
mendapatkan pekerjaan, akan tetapi pada saat sekarang kita memerlukan
kemampuan lebih dari itu untuk dapat bersaing dengan yang lainnya.
Kedua, kesalahan yang
dilakukan oleh siswa dan orang tua khususnya adalah dalam memilih
sekolah lanjutan. Tidak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya
cepat mendapatkan pekerjaan, namun lebih memilih SMA daripada SMK.
Begitupun dengan Perguruan Tinggi yang dipilih, mereka terjebak pada
Brand Universitas.
Para siswa atau orang tua siswa lebih memilih Universitas yang jelas
– jelas bertujuan mencetak Akademisi dari pada Politeknik yang
memang ditujukkan untuk menghasilkan para praktisi. Ketiga,
kesalahan dalam memilih jurusan di perguruan tinggi juga akan menjadi
permasalahan dikemudian hari. Tidak sedikit para lulusan perguruan
tinggi yang memilih Jurusan tertentu hanya karena jurusan tersebut
passing grade nya
kecil sehingga tidak begitu banyak peminatnya. Padahal mereka sendiri
sadar bahwa jurusan tersebut bukanlah pilihan mereka. Akibatnya
proses belajar dibangku kuliah pun tidak optimal sehingga tujuan
kuliah bukan lagi untuk belajar, melainkan untuk mempertahankan
status.
Lantas
bagaimana solusinya ?
Sebelum
menentukan pilihan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,
ada baiknya dipikirkan terlebih dahulu tujuan apa yang hendak dicapai
dengan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Jika tujuan kita untuk
mencari pekerjaan ada baiknya memilih SMK kemudian melanjutkan ke
politeknik. Namun jika memang tujuannya murni untuk mencari ilmu atau
ingin menjadi akademisi pilihlah Universitas dan jurusan yang memang
mengarah kepada tujuan tersebut. Dengan begitu pada akhirnya para
siswa akan menyadari apa sebenarnya tujuan mereka melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan tidak akan
“kabawa ku sakaba-kaba”.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar